Sunan Pojok

Sejumlah pengunjung nampak asyik memperhatikan koleksi benda-benda kuno bernilai sejarah tinggi yang dipajang di ruang atas museum Mahameru yang terletak di komplek wisata Taman Tirtonadi. Di antara pengunjung ada yang terlihat serius mengamati benda yang disimpan di lemari kayu dengan kaca transparan. Di dalamnya, di bagian atas tertata rapi beberapa kitab yang sudah tidak utuh lagi. Warnanya coklat kusam, meski masih ada yang terlihat lebih terang. Di antara kitab-kitab itu, ada Alquran kuno yang terbuat dari kulit. Tulisannya masih tulisan tangan. Juga ada kitab keagamaan lainnya, seperti ushul fiqih, tafsir dan tauhid serta kitab serta kitab-kitab karangan ulama terdahulu. Hanya tidak diketahui dengan pasti kapan kitab-kitab itu dibuat.

Meski sudah tua, kitab-kitab itu masih jelas tulisannya, sehingga masih bisa dibaca. Sejumlah versi sejarah menyebutkan Islam kali pertama di Blora disebarkan Sunan Pojok. Selain keturunan dari para wali songo, Sunan Pojok juga mempunyai hubungan kedekatan  dengan budaya dan kesenian Jogjakarta. Sejarah itu pernah dibeber Kanjeng Raden Tumenggung Hardjono Nitidipuro yang datang bersama 14 orang abdi dalem dari Jogjakarta khusus untuk menceritakan napak tilas sejarah Blora pada malam pengajian dalam rangka Haul Sunan Pojok tahun lalu. Hardjono Nitidipuro adalah salah seorang keturunan Sunan Pojok. Menurutnya, Sunan Pojok sangat dekat dan setia pada Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram. Sunan Pojok yang semasa hidupnya dikenal dengan nama pangeran Surabahu atau Syaikh Amirullah Abdulrahim, masih mempunyai hubungan darah dengan Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Ampel dan Dewi Candrawati binti Arya Tejo Bupati Tuban, serta keturunan dari Sunan Ngudung yang berasal dari Jipang Panolan.

Tugas yang diemban Sunan Pojok pada masa kejayaan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645) sangat berat. Yakni menghadapi VOC Belanda dan beberapa adipati seperti Tuban, Pati, Pasuruan, Surabaya yang masih mbalelo terhadap Sultan Mataram kala itu. Sunan Pojok yang kala itu menjadi panglima perang, berhasil menuntaskan pekerjaannya dengan kemenangan yang diraih pada 20 Nopember 1626, yang tercatat sebagai arsip nasional karena satu satunya peperangan yang mampu mengalahkan VOC, serta mengalahkan semua adipati yang menentang.

Setelah melapor den kembali ke wilayah Blora dan Tuban, Pangeran Pojok kelelahan dan jatuh sakit kemudian dirawat oleh putranya, R. M Sumodito, yang juga mempunyai sifat yang sama seperti ayahnya untuk selalu setia dan patuh pada Kanjeng Sultan Agung dan Pangeran Mangkubumi Hamengkubuwono I selain juga berbakti pada orang tua.

Makam Sunan Pojok

Makam Sunan Pojok terletak di jantung Kota Blora dekat dengan Alun-Alun Kota Blora, tepatnya berada disebelah Utara Pasar Kota Blora, sangat strategis dan mudah dijangkau, baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Menurut data inventaris Kepurbakalaan dari Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Blora serta hasil dari pendapat sebagian tokoh masyarakat mengenai data-data makam para tokoh Pemerintahan dan Keagamaan pada waktu dulu, merupakan awal mula pemerintahan di Kabupaten Blora. Barangkali dari sini dapat digambarkan asal mula Kabupaten Blora. Makam Sunan Pojok adalah Makam Pangeran Surobahu Abdul Rohim.

Sekembalinya dari Tuban diperjalanan beliau jatuh sakit dan meninggal dunia di Desa Pojok Blora, Menurut seorang ahli makam, Mbah Sobib dari desa Bugel Menganti, Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara, Pangeran Surobahu Abdul Rohim juga punya nama kecil yaitu Benun ( Mbah Benun ). Karena jasa-jasa Sunan Pojok, maka putranya yang bernama Jaya Dipa diangkat sebagai Bupati Blora yang pertama ( Dinasti Surobahu Abdul Rohim ), setelah wafat digantikan oleh putranya yang bernama Jaya Wirya, Kemudian oleh Jaya Kusumo. Keduanya, setelah wafat dimakamkan dilokasi Makam Pangeran Pojok. Kauman. Makam Sunan Pojok sering dikunjungi / diziarahi oleh banyak masyarakat terutama pada malam jumat. Kegiatan haul biasanya tanggal 27 Suro ( Tahun Jawa ), serta pada saat Hari jadi Kab. Blora , dan dilaksanakan tanggal 10 Desember.

Tinggalkan komentar

Filed under Jawa Tengah, Pengetahuan, Sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s