Ablas – Api Abadi dari Cepu

AblasDari kejauhan masih nampak lidah api biru di tengah sawah yang bero.  Lidah api itu nampak menari nari diterpa angin yang bablas tanpa ada yang merintangi.

Ablas demikian orang-orang disekitaran Dusun Gagakan, Kelurahan Pojok Watu, Kecamatan Sambong menyebutnya. Entah sejak kapan Ablas itu ada, dan siapa pula yang menamainya.

Jika ditilik dari bentuknya, fenomena keluarnya api dari rekahan tanah ini mirip yang ada di daerah Kayangan Api, Bojonegoro. Namun, Ablas bentuknya lebih kecil, dan tersebar di banyak titik. Sejak dulu, lokasi Ablas yang berada di tengah sawah sering dijadikan tempat berkumpul, sambil menghangatkan diri atau sembari membakar jagung.

Jika dilihat dari warna api yang biru, hampir bisa dipastikan adanya kandungan gas dibawahnya. Dari beberapa titik yang mengeluarkan api, kesemuanya berwarna biru cerah.

Ablas di waktu malamAblas paling pas dinikmati jika malam menjelang. namun karena lokasinya di tengah hamparan sawah, maka lebih baik anda menitipkan kendaraan di rumah penduduk di sekitarnya. Lokasi Ablas bisa ditempuh sekitar 5 km ke arah utara dari pusat kota cepu. Jangan takut kesasar, tanyalah lokasi Ablas, maka orang akan dengan senang hati menunjukannya pada anda.

Banyak peluang yang sebenarnya dapat digali dari Ablas ini. Dari sisi pariwisata, mungkin pemerintah daerah dapat menjadikannya sebagai salah satu obyek wisata, yang nantinya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar yang sebagian besar hanya mengandalkan hasil pertanian dari sawah tadah hujan. Dari sisi pertmabngan tampaknya perlu diadakan riset untuk mengukur kandungan gas yang ada di bawah Ablas.

Fenomena api abadi ini jga banyak kita temui di daerah lainnya, tetapi hanya beberapa yang dikelola dengan baik. Salah satunya adalah Api Abadi Mrapen. Berikut ini laporan tentang beberapa lokasi api abadi tersebut.

Latar Belakang Api Abadi Mrapen, Sejarah atau Babat?

Pada akhir Majapahit, berdirilah kerajaan Demak yang didirikan Raden Patah dibantu oleh para Wali dan guru agama. Akhirnya oleh Prabu Brawijaya, Raden Patah diijinkan dan bahkan diangkat menjadi Bupati di Bintara Demak pada tahun 1503. Kemajuan Bintara sangat pesat dan pengaruhnya sampai menyusup ke daerah Majapahit. Beberapa bangsawan Majapahit sudah mulai masuk Islam. Tahun 1509 Raden Patah diangkat sebagai Sultan Demak dengan Gelarnya Sultan Jimbun Ngalam Akbar atau Panembahan Jimbun. Dia memerintah sampai tahun 1518 dan digantikan oleh Adipati Umus (1518 – 1521). Usaha penaklukan Majapahit baru terlaksana pada tahun 1525, yaitu pada masa kekuasaan Sultan Trenggono ( 1521 – 1546 ).

Dengan keruntuhan Majapahit tahun 1525, maka kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam di Jawa menjadi penguasa tunggal. Sedang sisa – sisa penguasa Majapahit yang tidak mau tunduk ke Demak memindahkan pusat kerajaannya ke Sengguruh. Ada pula yang menyingkir ke Ponorogo dan lereng Gunung Lawu.
Setelah R. Patah menjadi raja dia mulai menata wilayah kerajaan. Kota Demak dijadikan pusat pemerintahan, pusat perdagangan dan pusat pendidikan dan penyebaran agama Islam ke seluruh Jawa. Sebagai lambang negara Islam dibangunlah sebuah masjid Agung yang merupakan perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu.

Ekspedisi pemboyongan dipimpin oleh Sunan Kalijaga tampak berjalan lancar. Setelah sampai di Mrapen mereka merasa sangat lelah. Kemudian rombongan itu beristirahat disitu. Karena tidak ada air untuk minum, maka Sunan Kalijogo bersemedi memohon kepada Tuhan diberi air untuk minum para pengikutnya. Tongkat wasiatnya ditancapkannya ke tanah, kemudian dicabutnya. Tetapi yang keluar bukan air namun api yang tidak dapat padam (Api Abadi). Sejak itulah tempat itu disebut Mrapen.

Kemudian di tempat lain dilakukan hal yang sama dan keluarlah pancuran air yang jernih, yang dapat diminum. Demikian rombongan itu minum dan setelah hilang lelahnya mereka melanjutkan perjalanannya ke Demak. Sesampainya di Demak barang – barangnya yang dibawa diteliti. Ternyata ada yang ketinggalan di Mrapen, berupa sebuah ompak (alis tiang). Sunan Kalijaga menyatakan ompak itu tidak perlu diambil sebab nantinya akan banyak gunanya. Batu ompak itu kemudian dikenal dengan Watu Bobot.

Suatu ketika Sunan Kalijaga mengajak Jaka Supo pergi ke hutan mencari kayu jati yang cocok untuk dibuat “Saka Guru“ Masjid Agung Demak. Jaka Suko adalah Putra Tumenggung Mpu Supodriyo, seorang Wedana Bupati Mpu (tukang membuat alat perang dari besi) Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu Jaka Supa sendiri telah menjabat sebagai jajar Mpu walaupun dia abdi Majapahit, tetapi dia telah belajar agama Islam pada Sunan Kalijaga.
Selama Sunan Kalijaga mengembara di hutan mencari kayu tersebut, dia berjumpa dengan Dewi Rasa Wulan yang sedang “Tapa Ngidang“. Dewi Rasa Wulan sebenarnya adalah adiknya sendiri yang lari dari Kadipaten Tuban, karena ditawari untuk menikah tidak mau. Oleh Sunan Kalijaga, Dewi Rasa Wulan diajak ke Tuban. Di Tuban dia dikawinkan dengan Jaka Supa.

Pada suatu pagi, ketika Jaka Supa yang telah bernama Mpu Supa “Memadai” ( bahasa Jawa : Mandhe ) membuat keris, datanglah Sunan Kalijaga untuk minta kepada Jaka Supa membuat sebuah keris yang baik. Sunan memberinya bahan berupa besi sebesar biji asam (sak klungsu) Jaka Supa heran, dapatkah besi yang sekian besarnya dapat dibuat keris ? tetapi setelah dipegang ternyata besi itu sangat berat dan berubah menjadi sebesar Gunung. Mpu Supa sangat takut kepada Sunan Kalijaga, maka apa yang menjadi perintah Sunan Kalijaga dikerjakan. Sunan Kalijaga memerintahkan supaya keris dibuat di Mrapen. Maka Mpu Supa pergi ke Mrapen membuat keris tersebut. Untuk pembakarannya digunakan api abadi. Watu Bobot digunakan sebagai landasannya. Sedang air sendang juga digunakan sebagai penyepuhnya. Aneh, air yang tadinya jernih setelah dipakai untuk menyepuh keris berubah warna menjadi kuning kecoklat – coklatan sampai sekarang.

Api Tak Kunjung Padam

Begitulah masyarakat di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan menyebutnya. Api yang muncul di permukaan tanah ini tidak pernah padam meski diguyur hujan lebat. Anehnya, api hanya menyala di tanah sekitar lingkaran pagar, sehingga warga tidak khawatir api akan menjalar ke rumah mereka. Jika tanah di sekitar titik api digali, nyala api akan menjadi besar. Tapi, warga tidak bisa dengan sengaja membuat titik api baru meski di dalam lingkaran pagar. Tidak ada yang tahu asal muasal keajaiban alam ini. Tapi, ada legenda yang dipercaya warga tentang asal api abadi ini. Yaitu legenda Kiai Moko, seorang sakti dan ternama di Madura.

Sebuah penelitian tentang kandungan gas alam atau minyak di lahan sekitar lokasi pernah dilakukan, tapi tidak menemukan apa pun. Nyala api yang muncul di permukaan tanah sama seperti nyala kompor gas, biru dan bertekanan udara. Tidak sedikit pengunjung yang memanfaatkan api untuk membakar ayam atau jagung yang sengaja disediakan pedagang di sekitar lokasi.

Tinggalkan komentar

Filed under Cepu, Pengetahuan, Sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s