Saya Memilih Merdeka

Membaca buku ini seperti kita dituntun untuk menyelami pemikiran dari sang penulis, mulai dari kecil hingga saat ini. Buku ini, seperti dituliskan di kata pengantar, adalah sebuah memoar. Sebuah memoar dari seorang Iyung Pahan yang berangkat dari sebuah keluarga miskin, dan merasakan dipenjara oleh sekolah, hingga dewasa dan menjadi pakar dan mentor. Buku ini merekam jejak langkah penulis dari belajar wirausaha proaktif, doktrin untuk menjadi pegawai di pendidikan tinggi, hingga pembelajaran ala Cash Flow Quadrant milik Robert T Kiyosaki. Hingga akhirnya berevolusi dengan keluar dari kuadran Kiyosaki, demikian penulis menyebutnya, dan mencapai sebuah konsep Merdeka atau Mati ala Iyung Pahan

Buku yang ditulis dengan kata kata apa adanya dan terkadang tidak mengikuti pakem ini menjadikan kita mudah untuk memahami apa yang hendak dimaksud penulis sebenarnya. Di bagian awal, penulis menceritakan tentang bagaimana susahnya hidup sebagai anak orang miskin. Walaupun sebenarnya penulis lebih beruntung untuk mengenyam bangku sekolah, namun penulis merasakan sepertinya itu adalah sebuah penderitaan Penderitaan karena semua kakaknya tidak mengenyam pendidikan sehingga lebih bebas,sedangkan penulis dan adiknya harus berajin rajin ke sekolah. “ kalian enak enak bekerja, sedangkan saya harus capek capek sekolah”, h iv, demikian penulis pernah menggugat kakak kakaknya. Walaupun sekarang sedang “mencari penyakit” dengan mengambil jenjang doktoral.

Penulis juga mengajak kita untuk hitung-hitungan tentang keuangan kita versus umur kita. Kapan kita akan pensiun, Bagaimana kita akan pensiun, dan bagaimana kita akan membiayai hidup kita. Semuanya dijelaskan dalam hitung-hitungan yang cukup rinci. Ini akan membuat kita terbelalak akan jumlah besaran di akhir hitungan, yaitu 37 Milyar . Ini adalah hanya gambaran jumlah kebutuhan hidup kita di usia 31 hingga 45 tahun. Layaknya sebuah pancingan, Hitung-hitungan di atas hanyalah sebuah pemacu untuk berpikir keras bagaimana caranya agar nilai tersebut bisa tercukupi. Salah satunya adalah dengan membaca dan mengamalkan apa yang ditulis di buku ini dengan seksama.

Perjalanan dimulai dengan menganalisa kuadran kiyosaki, yang terdiri dari 4, Employee, Self Employee, Business, Investor. Di tulisan awal, digambarkan bagaimana, persepsi wirausaha seorang Iyung Pahan yang belajar secara proaktif dimandulkan pada tahap pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi, baginya adalah sebuah pabrik untuk menciptakan seorang karyawan yang manis kinyis kinyis dengan dasi necis. Walaupun banyak juga karyawan yang mengalami nasib bertolak belakang dari penampilannya. Gali lobang tutup lobang, tidak punya tabungan apalagi asset. Bayangkan jika tiba tiba ada kemalangan? Gambaran ini akan berbeda dengan mindset seorang Self Employee, Business Owner atau Investor. Yang tentunya memiliki cadangan asset berlimpah, yang tidak ketakutan jika ada kemalangan atau yang bisa hidup nikmat sementara pundi pundi uang terus bertambah. Impian adalah kunci pertama menuju kemerdekaan, pungkas penulis di perjalanan pertama.

Beberapa gambaran dan analisa juga dianalisa oleh penulis untuk semakin memacu inspirasi untuk melangkah ke jalur kemerdekaan. Misalnya tentang bagaimana India bisa menikmati Gelombang perkembangan Globalisasi, dengan adanya jalur broadband supercepat, maka India bisa menyerap tugas tugas ‘kecil’ yang tidak dikerjakan di Negara maju. Hal inilah yang memacu pertumbuhan IT yang pesat di Negara yang masih terbilang miskin itu. Demikian pula, harusnya jika kita sebagai karyawan. Kita harus bisa melihat peluang, dan bergerak cepat meraih peluang. Setelah peluang didapat maka suatu keharusan adalah bagaimana kita bisa mengelola peluang itu untuk menghasilkan.

Sebelum peluang itu menghasilkan, maka kita harus memiliki rasa sabar yang FULL dan menikmati setiap aspek dari prosesnya. Jangan sampai kita terlampau mengejar hasil sehingga kita tidak bisa menikmati prosesnya. Penulis mengibaratkan dengan proses kelulusannya yang summa cum laude. Kelulusan yang sepi dan penuh keterasingan, demikian dicatat dalam buku ini. Sepi dan terasing, karena penulis hanya diwisuda sendiri tanpa didampingi teman temannya yang sama berjuang. Seakan seks tanpa orgasme. Jadi nikmatilah dan sesap semua prosesnya. Nikmatilah dan bersenang senanglah karena proses ini hanya ada satu kali. Penulis mengumpamakan dengan berselancar, terkadang kita bisa gagah berdiri menuruni ombak atau malah terjengkang jatuh. Demikian juga sikap kita seharusnya saat mengarungi tiap kuadran Kiyosaki, dan selanjutnya untuk bertransformasi dan keluar dari kuadran Kiyosaki

Ada satu kisah yang saya sukai disini yaitu tentang Pablo si raja pipa. Penulis dengan gambling menceritakan kisah tentang usaha, terobosan inovatif, keteguhan Pablo. Kisah bermula saat Pablo dan Bruno, seorang temannya diberi hak monopoli suplai air bersih ke desa. Di awal mereka berdua menggunakan ember untuk mengangkut air tersebut. Di suatu saat, Pablo terpikir untuk membuat proses ini jauh lebih mudah, dibanding harus bolak balik mengangkut ember. Pablo memikirkan untuk membangun jaringan pipa dari sumber mata air ke desa mereka. Di tahun tahun awal, Pablo membangun jaringannya, dia dilecehkan oleh Bruno dan dianggap orang bodoh. Bodoh, karena demi membangun jaringan pipa, Pablo harus kehilangan beberapa persen dari keuntungannya menjual air bersih dengan ember.

Setelah bertahun tahun, akhirnya jaringan pipa itu pun jadi. Sedikit demi sedikit, pelanggan jaringan pipa air bersihnya bertambah dan keuntungan pun berlipat. Sedangkan temannya yang masih setia dengan embernya, semakin berkurang keuntungannya. Disamping dengan adanya jaringan pipa Pablo, juga faktor kesehatan yang semakin menurun.

Dari cerita ini, kita bisa melihat bagaimana seharusnya sikap dari seorang wirausahawan. Betapa kita harus rela kehilangan, sanggup bertahan, dan siap berkorban demi impian dan tujuan kita. Sebuah pemikiran inovatif untuk merubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa pun dibutuhkan, dan itulah yang laku dijual.

Selain itu penulis juga banyak menggunakan cerita cerita lain untuk menggugah pemikiran kita, Baik cerita yang dialami sendiri maupun yang didapatkan berserakan di internet. Dari mulai cerita si tukang kayu yang membangun rumahnya sendiri sampai cerita tentang Ki Denggleng Pagelaran. Semua tersaji dengan apik dan semakin memudahkan kita mencerna paparan penulis.

Kembali lagi ke perjalanan menjadi seorang wirausaha, transformasi dari kuadran E dan SE menuju kuadran B atau I, tidak lah akan mudah bahkan cenderung berliku. Kecuali jika anda adalah pewaris kerajaan bisnis atau menikah dengan pewaris tunggal kerajaan bisnis. Demikian juga untuk mencapai kemerdekaan financial. Namun apakah kita harus mencapai kemerdekaan financial? Dalam bukunya penulis sedikit menyindir kita dengan menggambarkan bagaimana nikmatnya ‘memiliki’ sendiri Dunia Fantasi. Betapa nikmatnya menikmati semua wahana tanpa harus mengantri dan berdesakan dengan orang lain. Dan hal itu hanya bisa dinikmati jika kita mempunyai kemerdekaan financial, bebas untuk merencanakan waktu dan uang.

Di akhir buku, penulis sedikit memberikan prinsip prinsip kewirausahaan untuk pemula, bagaimana agar sukses mentransformasi diri dari kuadran E dan SE, menuju kuadran B dan I, selanjutnya keluar dari kuadran Kiyosaki untuk mencapai kemerdekaan. Jika anda masih di kuadran E dan SE, maka nikmatilahj dan serap semua keahlian yang anda sukai. Raihlah beberapa keberhasilan di bidang itu, buktikan kemampuan anda. Itu akan jadi karcis yang mengantar anda ke kuadran selanjutnya. Beberapa orang bahkan mengatakan perlu 10.000 jam terbang untuk menguasai suatu bidang dan menjadi sukses.
Seperti halnya penulis yang sukses mentransformasi dirinya menjadi pakar di bidang agrobisnis, seorang investor dan pekerja yang berusaha bekerja hanya 4 jam tetapi menghasilkan uang setara gaji 3 bulan.

Jadi, manakah yang anda pilih? Merdeka atau Mati. Kalau saya pribadi memilih Merdeka

Danang Rahadi

Data buku :
Judul : Merdeka atau Mati! Inspirasi Menapak Jalan Kemerdekaan Finansial
Pengarang : Iyung Pahan
Cetakan : Pertama, Mei 2009
Halaman : viii + 88 hal

Tinggalkan komentar

Filed under Motivasi, Opini, Tips

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s