BATUK

Belakangan ini, jumlah penderita batuk berat makin meningkat, makin mudah menyebar, dan cenderung makin lama sembuh. Peningkatan jumlah penderita dengan keluhan batuk berat bukan hanya nampak di praktek-praktek dokter, namun juga di institusi layanan primer. Sebenarnya, peningkatan insidens ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) bukanlah berita baru. Kadang terjadi pergeseran masa puncak (mencapai 42% dari total jumlah penderita) pada bulan-bulan tertentu. Tapi kali ini agak berbeda. Trend peningkatan ISPA, terutama batuk berat mulai nampak sejak awal tahun 2009 dan terus meningkat hingga bulan ini.

Batuk, merupakan reflex (mekanisme) pertahanan tubuh alami dalam upaya melonggarkan pernafasan dan mengeluarkan “sesuatu” yang mengganggu seperti sekret (dahak), bahan iritan (iritasi), benda asing dan mikro-organisme, di sepanjang saluran pernapasan, mulai hidung, mulut, tenggorokan hingga paru.

Beberapa referensi membagi (keluhan) batuk berdasarkan ada tidaknya produksi dahak, yakni batuk kering dan batuk basah. Menurut saya, pembagian ini sering kali mengaburkan pemahaman di kalangan masyarakat. Boleh jadi seseorang ngotot mengatakan batuk kering, sementara yang lain ngotot mengatakan batuk basah, bergantung kepada pendengaran masing-masing orang. Untuk membuktikannya, perlu pemeriksaan menggunakan stetoskop. Itupun adakalanya terjadi perubahan sekresi dahak beberapa hari kemudian, seiring dengan perkembangan penyakit. Bisa saja terjadi pada awal pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda sesak yang menyertai batuk, namun beberapa hari berikutnya didapatkan tanda-tanda sesak nafas. Trus gimana ? … Gampang, kontrol ke dokter dong. :D

Berdasarkan masa (waktu) berlangsungnya, batuk terbagi 2, yakni batuk akut dan batuk kronis. Dikaregorikan batuk akut bila masa berlangsungnya kurang dari 3 minggu, dan digolongkan batuk kronis bila masa berlangsungnya lebih dari 3 minggu. Perlu diingat bahwa akut dan kronis tidak menggambarkan berat ringannya penyakit, tapi mengacu pada waktu berlangsungnya penyakit.

Batas waktu 3 minggu bukan pula batasan absolut. Pada kenyataannya, batuk akut yang biasanya disebabkan oleh infeksi mikro-organisme, dapat juga berlangsung hingga lebih 3 minggu, bahkan 6-8 minggu, sampai terkencing-kencing.

FAKTOR PENYEBAB

Batuk akut pada umumnya disebabkan oleh:

  • Infeksi mikro-organisme (terutama kuman dan virus)
  • Non infeksi, misalnya alergi dan berbagai faktor pemicu, termasuk batuk kronis (misalnya bronkitis alergi, asma0 yang mengalami eksaserbasi akut oleh berbagai faktor.

Sedangkan batuk kronis pada umumnya berhubungan dengan bronkitis kronis, asma, emphysema, alergi dan lain-lain. Selain itu, batuk dapar terjadi karena pemakaian obat antihipertensi golongan ACE inhibitor (captopri).

Keluhan-keluhan yang menyertai batuk.

Batuk dapat disertai oleh keluhan-keluhan lain, seperti:

  • Demam, kadang menggigil, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sekujur tubuh, lemas, mual, lidah pahit, dan lain-lain.
  • Sakit tenggorokan, nyeri telan, suara serak, dahak sulit keluar.
  • Sesak napas, nyeri dada, bernapas serasa berat.

Tak jarang batuk berlangsung hingga berminggu-minggu walaupun sudah diobati dengan benar dan tepat. Terlebih jika orang-orang sekitar juga mengalami batuk berkepanjangan.

PENGOBATAN

Prinsip pengobatan sedapat mungkin berdasarkan pada penyebabnya, mengeliminir faktor-faktor pencetus dan meredakan keluhan (termasuk keluhan yang menyertai batuk) dengan obat-obat simptomatis.

Obat-obat yang lazim digunakan diantaranya:

  • Antihistamin dan obat-obat flu serta obat pereda demam.
  • Ekspektoran (pengencer dahak), misalnya: GG, bromhexine, ambroxol, dan lain-lain.
  • Antitusif (penekan batuk). Obat golongan ini tidak direkomendasikan untuk anak dikarenakan dapat menimbulkan efek samping sesak (penyempitan saluran napas) dan dahak makin sulit keluar.
  • Bronkodilator (misalnya: salbutamol, terbutalin sulfat, teofilin, dan lain-lain), yakni obat yang berfungsi untuk melebarkan saluran nafas. Obat ini bukan untuk asma saja, tapi dapat juga digunakan untuk sesak karena penyempitan saluran nafas yang lain dan batuk yang disertai gangguan bernafas.  Penting diketahui bahwa obat bronkodilator kadang menimbulkan efek samping berdebar, lemes, tak berdaya, walaupun menggunakan dosis rendah. Tapi gak perlu khawatir. Untuk menanggulanginya cukup dengan istirahat, kemudian selanjutnya dosis diturunkan menjadi setengahnya. Jika masih berdebar, dosis diturunkan lagi atau mengganti dengan obat bronkodilator lain atas saran dokter.
  • Steroid. Hanya digunakan untuk asma (dan beberapa jenis batuk alergi) yang benar-benar memerlukan steroid. Pemakaian obat jenis ini hanya atas rekomendasi dokter.
  • Antibiotika. Hanya digunakan berdasarkan hasil pemeriksan dokter jika menunjukkan tanda-tanda infeksi kuman atau sebab lain yang disertai infeksi sekunder oleh kuman.

Apakah boleh diobati sendiri ?

Boleh. Untuk batuk tanpa keluhan lain atau dengan keluhan penyerta yang ringan, dapat diobati sendiri di rumah dengan menggunakan obat-obat simptomatis (meredakan keluhan). Adakalanya batuk tanpa infeksi sekunder dapat sembuh sendiri. Namun jika tak kunjung sembuh, sebaiknya periksa ke dokter untuk mendapatkan obat yang tepat.

Tentu kesadaran semacam ini tidak datang dengan sendirinya, namun melalui proses komunikasi aktif jangka panjang yang tak pernah berhenti dan dibina terus menerus secara kekeluargaan.

Semoga bermanfaat.

Silahkan berbagi.

Bacaan:

Diagnosis dan Terapi Kedokteran (Current Medical Diagnosis & Treatment), Lawrence M. Tieney, Jr, MD, et all, 2002.

diambil dari cakmoki Blog

Tinggalkan komentar

Filed under Pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s