Antioksidan Tingkatkan Pamor Bengkuang

Bengkuang bukan sekadar pemutih kulit, antioksidan yang ada pada bahan pangan ini bersifat antikanker dan mampu mencegah penyakit degeneratif lainnya. Bisa pula dipakai untuk membantu mengatasi wasir dan demam.
Tanaman bengkuang tergolong ke dalam suku polong-polongan atau Fabaceae. Di Amerika tumbuhan ini dikenal sebagai xicama atau jicama. Dalam bahasa Inggris, umbi bengkuang dikenal dengan sebutan yambean. Di Indonesia, umbi tersebut dikenal dengan sebutan bengkuang atau bengkoang, sedangkan di Jawa disebut besusu.

Dalam kehidupan sehari-hari, yang disebut bengkuang adalah umbi (cormus) dari tanaman bengkuang (Pachyrrhizus erosus). Bengkuang biasanya dikonsumsi dalam bentuk segar utuh atau sebagai bagian dari rujak, asinan, manisan, salad, koktail, atau jus. Penambahan madu dan jeruk nipis ke dalam jus bengkuang diyakini dapat mencegah sariawan.

Selain sebagai bahan pangan, umbi bengkuang secara tradisional juga sangat dikenal dalam dunia kecantikan, yaitu sebagai masker kecantikan untuk memutihkan dan menyegarkan kulit. Di kehidupan modern saat ini, masker bengkuang telah dipasarkan dalam bentuk bubuk atau pasta siap pakai.

Berawal dari Ambon

Menurut sejarahnya, tanaman bengkuang berasal dari daerah Amerika Tengah dan Selatan, khususnya daerah Meksiko. Awalnya tanaman bengkuang dianggap sebagai obat-obatan oleh suku Aztec, terutama karena manfaat bijinya.

Selanjutnya oleh bangsa Spanyol, bengkuang disebarkan ke daerah Filipina. Kedatangan bangsa Spanyol ke Asia pada abad ke-17 tersebut mempunyai andil besar dalam menyebarkan tanaman bengkuang, hingga ke seluruh negara Asia dan Pasifik.

Tanaman bengkuang masuk ke Indonesia dari Manila melalui Ambon. Berawal dari Ambon, bengkuang kemudian dibudidayakan di seluruh pelosok negeri ini. Sentra produksi bengkuang saat ini adalah Jawa, Madura, dan di beberapa daerah lain, terutama di dataran rendah.

Varietas yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah bengkuang gajah dan bengkuang badur. Perbedaan di antara kedua jenis bengkuang ini adalah waktu panennya.

Varietas bengkuang gajah dapat dipanen ketika usia tanam memasuki empat sampai lima bulan. Varietas bengkuang badur memiliki waktu panen lebih lama. Jenis ini baru dapat dipanen ketika tanamannya berusia tujuh sampai sebelas bulan.

Dalam praktik budi daya, tanaman bengkuang sering ditanam di sela-sela tanaman lada. Hal ini dikarenakan akar tanaman bengkuang memiliki kemampuan untuk bersimbiosis dengan Rhizobium yang dapat menambat nitrogen dari udara.

Dengan kondisi berbagai iklim, khususnya tropis basah, bengkuang dapat beradaptasi dan tumbuh dengan baik. Keberadaan tanaman bengkuang yang dapat memfiksasi nitrogen membuat suplai nitrogen bagi tanaman lada tercukupi, sehingga tidak perlu penambahan unsur nitrogen dari luar (berupa pupuk urea).

Bengkuang merupakan tanaman merambat, berdaun majemuk dengan tiga anak daun. Bunganya bersusun menghasilkan buah berbentuk polong, berisi empat sampai sembilan biji dan berbulu halus.

Tanaman bengkuang merupakan tanaman tahunan yang menghasilkan umbi akar, dengan bentuk membulat seperti gasing. Kulit umbi tipis dan berwarna kuning pucat. Bagian dalam umbi berwarna putih, mengandung air, serta berasa manis.

Umbi bengkuang tidak tahan suhu rendah, sehingga mudah mengalami kerusakan. Karena itu, umbi sebaiknya disimpan pada tempat kering bersuhu maksimal 16°C. Penyimpanan umbi pada kelembaban dan suhu yang sesuai akan membuat bengkuang tahan hingga sekitar 2 bulan.

Mineral dan vitamin C

Umbi merupakan bagian yang paling banyak dikonsumsi dari tanaman bengkuang. Bagian dalam umbi mengandung gula, pati, dan oligosakarida yang dikenal dengan nama inulin.

Uniknya, inulin tidak dapat segera diasup oleh tubuh sebagai sumber gula, tetapi perlu proses pemecahan lebih lanjut oleh enzim inulinase. Sifat inulin ini sangat berguna untuk aplikasi produk bagi penderita diabetes melitus maupun yang sedang berdiet rendah kalori.

Umbi bengkuang sering dikonsumsi karena dianggap memberi efek segar. Efek ini muncul karena kandungan air pada umbi yang cukup tinggi, yaitu sekitar 86 hingga 90 persen. Kadar air yang tinggi dapat menggantikan cairan tubuh, sehingga kita merasa segar.

Menurut literatur, sifat kimiawi dan efek farmakologis umbi bengkuang adalah manis, dingin, sejuk, dan berkhasiat mendinginkan. Kandungan kimianya adalah pachyrhizon, rotenon, vitamin B1, dan vitamin C.

Selain itu, bengkuang juga mengandung mineral tinggi. Mineral yang terkandung dalam bengkuang yang paling dominan adalah fosfor, zat besi, serta kalsium. Secara lengkap, komposisi zat gizi yang terkandung dalam 100 gram bengkuang dapat dilihat pada tabel.

Komposisi zat gizi umbi bengkuang

Zat gizi Kadar per 100 gram
Energi (kkal)

55

Protein (g)

1,4

Lemak (g)

0,2

Karbohidrat (g)

12,8

Kalsium (mg)

15

Fosfor (mg)

18

Besi (mg)

0,6

Vitamin C (mg)

20

Vitamin B1 (mg)

0,04

Vitamin A (IU)

0,

Air (g)

85,1

Sumber: Direktorat Gizi Depkes (1992)

Dari tabel tersebut tampak bahwa kandungan utama bengkuang adalah air, yaitu 85 gram per 100 gram umbi. Kadar energinya yang cukup rendah (55 kkal/100 g) memungkinkan bengkuang untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan yang baik bagi pelaksana diet rendah kalori dan penderita diabetes melitus.

Kandungan vitamin C yang cukup tinggi (20 mg/100 g), memungkinkan bengkuang digunakan sebagai sumber antioksidan yang potensial untuk menangkal serangan radikal bebas penyebab kanker dan penyakit degeneratif.

Sebagai Obat Luar Dalam

Filsuf Yunani kuno yang bernama Hippocrates pernah menyatakan let food be your medicine (gunakanlah makanan sebagai obatmu). Salah satu bahan pangan yang dapat digunakan sebagai obat adalah bengkuang.

Banyaknya khasiat dalam bengkuang menunjukkan bahwa bengkuang tidak hanya enak dinikmati sebagai bahan pangan, tetapi juga bermanfaat sebagai obat. Komposisi kimia yang sedemikian rupa memungkinkan umbi bengkuang untuk digunakan sebagai obat, baik obat luar maupun dalam.

Sebagai obat luar, bengkuang terlebih dahulu harus dihaluskan dan ditempelkan di bagian-bagian tubuh tertentu. Untuk pengobatan dalam, bengkuang dapat mengatasi berbagai penyakit seperti diabetes, demam, eksim, sariawan, dan wasir.

Selain umbi, bagian tanaman lainnya yang dapat digunakan sebagai obat adalah akar, biji, dan tangkainya. Untuk pengidap, diabetes, bengkuang dapat diparut, disaring, kemudian diminum bagian cairnya dua kali sehari.

Walaupun bengkuang memiliki efek farmakologis sebagai obat untuk berbagai penyakit seperti demam, penyakit kulit, dan nyeri perut, tumbuhan ini juga berbahaya karena mengandung racun di bagian biji dann daunnya. Penggunaan bagian biji dan daun perlu diwaspadai agar tidak terjadi keracunan.

Identik dengan Pemutih Kulit

Karena rasanya yang manis dan kadar airnya yang tinggi, umbi bengkuang sangat enak untuk dinikmati begitu saja, apalagi di saat cuaca panas. Saat panen yang tepat sangat berpengaruh terhadap rasa manis dan tekstur umbi. Bila panen dilakukan terlambat, umbi akan berasa kurang manis, kurang berair, dan berserat banyak.

Warna umbi yang putih memungkinkan bengkuang dikombinasikan dengan bahan yang berwarna lain, sehingga dihasilkan produk yang tidak saja enak rasanya, tetapi juga menarik perhatian. Daya tarik bengkuang itu menyebabkan umbi yang berwarna putih tersebut banyak dipakai sebagai salah satu komponen dalam pembuatan rujak, asinan, koktail, salad, atau buah-buahan dalam kaleng.

Tidak hanya di bidang kesehatan dan pangan, bengkuang juga diaplikasikan pada bidang industri kosmetik. Bagian akar atau umbi bengkuang dimanfaatkan sebagai bahan bedak dingin untuk perawatan wajah, sehingga wajah menjadi terlihat lebih segar, halus, dan putih.

Manfaatnya sebagai kosmetik, membuat bengkuang identik dengan efek pemutihan kulit. Bengkuang dalam bentuk ramuan masker, sejak dahulu kala memang telah dipercaya dapat menghaluskan, memutihkan, serta menghilangkan flek atau noda di bagian wajah.

Pengganti Terapi Sulih Hormon

Tingginya tingkat penyakit kronis di kalangan wanita pasca menopause menyebabkan semakin banyaknya pemakaian terapi sulih hormon (hormon replacement therapy), yaitu dengan menggunakan hormon estrogen. Sejatinya tindakan sulih hormon estrogen harus dipikirkan baik-baik.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa terapi tersebut dalam waktu lama akan menyebabkan risiko kanker tertentu, khususnya kanker payudara dan kanker rahim. Karena itu, konsultasi dengan dokter ahli sangat penting untuk dilakukan agar dapat menimbang efek baik dan buruknya.

Isoflavon memiliki struktur kimia yang hampir sama dengan estrogen, serta memiliki kemampuan untuk berikatan dengan reseptor estrogen yang terdapat di dalam sel. Isoflavon sering disebut fitoestrogen, yaitu estrogen yang berasal dari nabati (fito = tanaman).

Senyawa isoflavon telah dilaporkan memiliki aktivitas estrogenik. Itulah sebabnya, isoflavon dapat digunakan sebagai terapi nonhormonal atau alternatif untuk terapi sulih hormon estrogen.

Survei di Jepang, yang dilakukan oleh Suzuki tahun 1998 menunjukkan bahwa rendahnya angka kematian akibat jantung koroner, kanker payudara, kanker rahim, dan aterosklerosis dipengaruhi oleh tingginya tingkat konsumsi makanan asal kedelai, seperti tahu, natto, misso, dan susu. Hal tersebut diduga oleh peran isoflavon kedelai, yaitu genistein, daidzein, dan glisetein, yang memiliki aktivitas biologis sebagai fitoestrogen, antioksidan, dan antimutagen.

Belakangan diketahui isoflavon tidak hanya terdapat pada kedelai, tetapi juga pada bahan pangan lainnya, seperti umbi bengkuang. Keberadaan isoflavon pada umbi bengkuang menambah pamor bengkuang sebagai tanaman yang berkhasiat untuk kesehatan.

Isoflavon dapat berperan sebagai antioksidan, sehingga berguna untuk mencegah: (1) kerusakan oksidatif membran sel, (2) aterosklerosis akibat teroksidasinya LDL (kolesterol jahat), (3) penyakit jantung koroner, (4) penyakit kardiovaskutar, dan (5) kerusakan oksidatif DNA. Selain itu, daya antioksidan isoflavon juga berguna untuk memberi efek antiproliferatif dan menghambat pertumbuhan sel melanoma (salah satu pemicu kanker).

Isoflavon juga telah dibuktikan mampu memberikan efek farmakologis, seperti: (1) mengurangi risiko kanker payudara, ovarium, dan kanker prostat, (2) menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol jahat (LDL), serta meningkatkan kolesterol baik (HDL), (3) menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, (4) bersifat antimutagenesis (mencegah mutasi gen), serta (5) mencegah osteoporosis pada wanita pasca menopause.

Hubungan antara isoflavon dan osteoporosis diduga oleh kemiripan struktur kimia isoflavon dengan hormon estrogen dan obat osteoporosis sintetis, yaitu ipriflavon. Estrogen dan ipriflavon dapat melindungi densitas mineral tulang pada wanita pasca menopause. Isoflavon dapat menghambat kerusakan dan sekaligus menstimulasi pembentukan tulang.

Oleh:
Prof. DR. Made Astawan
Ahli Teknologi Pangan dan Gizi

Bengkuang atau bengkoang (Pachyrhizus erosus) dikenal dari umbi (cormus) putihnya yang bisa dimakan sebagai komponen rujak dan asinan atau dijadikan masker untuk menyegarkan wajah dan memutihkan kulit. Tumbuhan yang berasal dari Amerika tropis ini termasuk dalam suku polong-polongan atau Fabaceae. Di tempat asalnya, tumbuhan ini dikenal sebagai xicama atau jícama. Orang Jawa menyebutnya sebagai besusu (/bəsusu/).

Bengkuang merupakan liana tahunan yang dapat mencapai panjang 4-5m, sedangkan akarnya dapat mencapai 2m. Tumbuhan ini membentuk umbi akar (cormus) berbentuk bulat atau membulat seperti gasing dengan berat dapat mencapai 5kg. Kulit umbinya tipis berwarna kuning pucat dan bagian dalamnya berwarna putih dengan cairan segar agak manis. Umbinya mengandung gula dan pati serta fosfor dan kalsium. Umbi ini juga memiliki efek pendingin karena mengandung kadar air 86-90%. Rasa manis berasal dari suatu oligosakarida yang disebut inulin (bukan insulin!), yang tidak bisa dicerna tubuh manusia. Sifat ini berguna bagi penderita diabetes atau orang yang berdiet rendah kalori.

Manfaat:
Mengatasi penyakit kulit, biji bengkuang, dan belerang (masing-masing secukupnya) dihaluskan lalu ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. Jika mengidap diabetes, satu atau dua bengkuang diparut lalu disaring dan diminum setiap pagi dan malam hari. Sebagai obat demam, umbi bengkuang dikupas kulitnya lalu dibuat manisan dan dimakan. Mengatasi eksim, umbi bengkuang dikupas kulitnya dan dimakan secara langsung. Lakukan secara rutin empat kali seminggu. Jika terkena sariawan, umbi bengkuang dikupas lalu tambahkan air dan madu secukupnya lalu dijus dan diminum. Mengatasi wasir, satu buah bengkuang dijus lalu diminum tiap bangun tidur pagi.

Tapi hati2 karena bagian bengkuang yang lain sangat beracun karena mengandung rotenon, sama seperti tuba. Racun ini sering dipakai untuk membunuh serangga atau menangkap ikan.

sebenarnya butuh buat apa bengkuangnya?? rujakan,, mauuu dunkkk

7 Komentar

Filed under Pengetahuan, Tips

7 responses to “Antioksidan Tingkatkan Pamor Bengkuang

  1. Ping-balik: dasanovi » Budidaya Bengkuang

  2. apa terdapat dampak negativnya ?

  3. ryo

    halo.. saya sedang di suruh cari bengkoang jepang,, kalo ada info hub saya pak lewat email saya trm kasih

  4. willy ferdiyan

    wach pak ,artikelnya bagus bnget,,,,…

  5. rima_ku

    pak, saya sangat tertarik dengan artikelnya, apa sudah ada penelitian ilmiahnya? kalau belum saya tertarik untuk mengangkatnya sebagai bahan penelitian, apakah bapak bersedia jd pembimbing atau narasumber?saya sangat berharap balasan dari bapak. -terima kasih-

    -rima-
    Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna
    Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
    Subang Jawa Barat

  6. suria

    doktor ada tak buat isoflovon dari bengkuang, kalau ada boleh sms kepada saya 019-6820925 malaysia

  7. artikelnya sangat bagus, bemanfaat dan menarik, terimakasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s